Sepanjang Minggu (18/1), Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah, Bali, selaku salah satu dari tujuh pusat krisis rabies di Kabupaten Badung dan Kota Denpasar menerima 15 pasien yang mengaku digigit anjing atau kera. Mereka langsung mendapatkan vaksinasi antirabies.
Umumnya pasien datang dari sejumlah kawasan di Kabupaten Badung, terutama Kecamatan Kuta Selatan dan Kuta, serta Kota Denpasar. Di kedua kabupaten/kota ini, rabies sudah positif berjangkit. Namun, satu pasien berasal dari Gianyar, yang sebenarnya masih dinyatakan bebas dari penyakit rabies.
Kepala Seksi Pelayanan Medis dan Rawat Jalan RSUP Sanglah dr Ken Wirasandhi mengungkapkan, sepanjang Desember lalu tercatat 15 pasien dengan kasus gigitan hewan penular rabies berasal dari Sanglah. Pada Januari 2009 tercatat kasus rabies meningkat dengan rata-rata 10 kasus gigitan per hari, belum ditambah di puskesmas lain yang ditunjuk sebagai crisis center serta RS Wongaya, Denpasar. ”Mungkin saja bulan-bulan lalu sudah banyak kasus gigitan hewan penular rabies, tetapi tidak dilaporkan,” kata Ken.
Dia menyatakan, semua pasien langsung mendapatkan tindakan medis sesuai kasus yang dialami. Terkait riwayat gigitan pasien, Ken menyatakan langsung berkoordinasi dengan Dinas Peternakan dan Kelautan serta Dinas Kesehatan Provinsi Bali.
Sesuai prosedur, Dinas Peternakan dan Kelautan akan bertanggung jawab untuk mengawasi, menangkap, serta meneliti hewan penular rabies penggigit para pasien.
Vaksinasi diperluas
Di tempat terpisah, praktisi hewan kecil yang juga mantan penyidik di Balai Penyidikan Penyakit Hewan Wilayah VI Denpasar, drh Soeharsono PhD, menyatakan, peningkatan jumlah pasien dengan kasus gigitan hewan penular rabies, apalagi ada yang dari luar daerah terinfeksi, jelas merupakan ancaman. Ia mendesak Pemerintah Provinsi Bali segera menggelar vaksinasi hingga daerah terancam, yakni kabupaten lain di luar Badung dan Denpasar.
Terkait meninggalnya seorang warga pada Kamis lalu di RSUP Sanglah, Ken mengatakan, pasien meninggal itu menunjukkan gejala klinis dan epidemiologis rabies. Gejala itu antara lain mengeluarkan air liur pada saat meninggal dan mempunyai riwayat gigitan anjing di Desa Ungasan, Kuta Selatan, sekitar enam bulan lalu. Bahkan, anjing penggigit pasien itu diketahui positif rabies.
Menurut dia, spesimen pasien tersebut telah dikirim ke Balivet Bogor untuk mendapat kepastian akhir penyebab meninggalnya pasien. Pemprov Bali pun akan meneliti strain virus rabies di Bali itu. (BEN)